Sudut yang kurang tepat

Pernah dengar bantahan schrodinger pada interpretasi Copen Hagen?

Atau mungkin kamu lebih tau kalo aku sebut kucingnya Schrodinger. Fisikawan berkaca mata itu melakukan eksperimen dengan kucing di dalam kotak. Sebelum kamu buruk sangka dan anggap ini kayak penyiksaan hewan atas nama sains, biar kita sama sama pahami dulu kalo eksperimen kucing tersebut adalah eksperimen pikiran. Menurut aku para fisikawan punya imajinasi yang bagus, iya kan?

Schrodinger dalam pikirannya membayangkan, bagaimana jika ada zat radioaktif yang sangat tidak stabil dalam satu jam berpotensi pecah atau tetap utuh. Kalo zat radioaktif pecah maka geiger counter bakal mendeteksi peluruhan atom dan memicu palu untuk memecahkan sianida. Dalam kasus ini maka si kucing akan mati. Mungkin juga dalam satu jam kedepan kucing tersebut masih hidup karena zat radioaktif ngga pecah. Jadi sebetulnya apa yang dialami si kucing, dia hidup atau dia mati? kita ga pernah tau selama belum dilakukan pengamatan.

Disinilah letak pengamatan itu terjadi, setelah kotak dibuka maka satu realitas akan terjadi, yaitu hidup atau mati. 

Sebelumnya aku pengen kamu tau kalo kita bukan sedang bahas fisika, tapi tentang doa, pikiran dan misteri tuhan. Kedengerannya emang ngawur, tapi percayalah lewat eksperimen Schrodinger ini aku jadi berpikir demikian. 

Aku sempat mempertanyakan tentang doa. Bagaimana manusia bisa selalu percaya doa akan terkabul. Banyak teman temanku yang merespon dan memberikan tanggapan, pada intinya adalah karena iman.

Baiklah, menurutku oke juga. Jadi setelah berkelit dengan doa dalam sudut pandang iman, aku memutarnya menjadi doa dalam sudut pandang takdir.

Awalnya pendapatku adalah doa yang kita panjatkan mirip seperti kucingnya Schrodinger, selagi Tuhan belum memberi jawaban maka doa-doa tersebut berada dalam super posisi, bisa terkabul dan bisa ditolak. Lalu perilaku kitalah yang menentukan doa kita terkabul atau ditolak. Pada saat itu aku cukup yakin dengan pemikiran ini, aku juga mempertimbangkan bahwa beberapa takdir bisa diubah. Untungnya, keyakinan itu ngga bertahan lama.

Lalu bagaimana dengan takdir yang tidak bisa diubah seperti kelahiran dan kematian. Paling parahnya lagi, aku menempatkan manusia sebagai pengamat agung. Seperti Schrodinger yang membuka kotak, aku memosisikan manusia disitu. Padahal kita sedang membahas doa (hamba, keinginan, dan Tuhan). Lalu dimana letak Tuhan kalo aku memosisikan manusia sebagai Schrodinger si pengamat yang menentukan kucing hidup atau mati.

Jadi setelahnya aku perbaiki dengan Tuhan sebagai pengamat agung yang paling tinggi. Anggap saja begini, setelah Schrodinger membuka kotaknya, ia memanggil seorang teman untuk ikut melihat hasilnya. Dengan demikian “teman Schrodinger” diasumsikan sebagai kita para manusia yang baru bisa melihat hasil setelah tuhan menetapkan sesuatu. 

Sepanjang pemikiran ini, seperti yang kamu tau, aku menempatkan doa sebelum terkabut sebagai super posisi. Selanjutnya apa yang terjadi, kalo kita sepakat kucingnya Schrodinger berada dalam hidup dan mati secara bersamaan, dan hanya akan terbentuk satu realitas ketika kita membuka kotaknya maka kemana perginya realitas yang lain? Mungkin jawabannya adalah interpretasi banyak dunia (many worlds interpretation) dan memang super posisi adalas dasar dari interpretasi tersebut.

Mungkin aku dan kamu yang ada di dunia ini melihat si kucing hidup sambil memberinya Royal Canin. Tapi, di belahan dunia lain, aku dan kamu melihat si kucing mati karena sianida.

Mungkin aku dan kamu di dunia ini berhasil, tapi bagaimana dengan aku dan kamu di dunia yang lain? Sosok yang menentukan kita di dunia ini berhasil atau tidak adalah tuhan. 

Dalam beberapa takdir yang bisa diubah, hasil bergantung pada seberapa besar kamu berusaha. Kamu pasti pernah dengar “Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum tersebut merubahnya”. Dan benar sekali. Di titik inilah aku benar benar sadar kalo sudah berkelit dengan pemikiran yang salah sejak awal.

Ingat apa yang aku katakan diatas? Eksperimen kucing ini adalah bentuk bantahan Schrodinger terhadap teorinya Copen Hagen. Pada dasarnya Schrodinger ingin bilang bahwa teori Copen ini aneh, hukum yang berlaku di dunia atom tidak bisa langsung diasumsikan sama dengan dunia nyata. 

Kalo kamu ingin coba cari tau tentang interpretasi Copen Hagen, Para kritikus mempertanyakan apa yang disebut dengan pengamatan. Karena Copen bilang kalo partikel selalu dalam keadaan super posisi sampai ia diamati.

Jadi apa hubungannya dengan “Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum tersebut merubahnya”. Itu sama seperti kucingnya Schrodinger, dia kehilangan sifat kuantumnya karena hal hal seperti cahaya, dan udara seolah menjadi pengamat dan membuat si kucing tidak pernah berada dalam super posisi. Seperti doa, ia juga mengalami dekoherensi karena keadaan ekonomi, hukum masyarakat, dan perilaku manusia lainnya. Hal itu semualah yang sejak dari awal merusak super posisinya dan membawanya menuju realita klasik takdir manusia “berhasil atau gagal”.

Pemikiran ini salah sejak awal jika dilihat melalui sudut pandang fisika yang kaku, aku tahu tapi tetap aku lanjutkan karena tak ada satupun yang akan dirugikan. Semuanya hanya sebatas pemikiran yang ada di kepalaku sampai aku menuliskannya disini. Tidak ada satu orangpun yang tau aku memikirkan hal ini kecuai AI yang serba tau dan selalu aku berikan pertanyaan. Anggaplah ini sebagai metafora sembari melayih daya pikir dan penulisanku yang sangat buruk.

Kalo teorinya Copen Hagen saja tidak bisa diaplikasikan walau di dunia yang sama (perkara mikro dan makro), apalagi jika diterapkan pada dimensi berbeda kan? Mungkin tak ada teori untuk menjelaskan doa. Jadi itulah alasannya ketika kita beragama kita harus punya iman. Aku percaya Tuhanku bahkan jika tak ada satupun teori yang menjelaskannya. Waktu kecil dulu aku dan sepertinya semua orang pernah mempertanyakan kenapa babi itu haram. Seseorang bilang karena dia kotor dan menularkan sifat yang tidak baik bagi manusia. Setelahnya dalam perjalanan ke rumah nenek aku bertanya pada ayahku kenapa lele tidak haram padahal ia kanibal. Ayahku bilang itu namanya iman dan percaya. Kalo Tuhan bilang jangan maka ga perlu kamu cari-cari penyebabnya kenapa Tuhan larang.

Sudah 12 tahun lebih rasanya pembicaraan tentang iman itu terjadi, sekarang aku membahasnya lagi. Iman.


Sejauh ini bahasanya sangat baku yaa dibanding yang lain wgwgwg.

Aku yakin kamu juga pasti pernah mempertanyakan dan berteori sendiri. Rasanya senang kalo kamu punya pemikiran lain tentang apapun dan membagikannya kepadaku. Akan aku tanyakan banyak hal sampai kamu tidak merasa canggung sedikitpun.

Selalu menunggu ceritamu✨

Komentar